Pengunjung ramai, kas tetap tipis
Akhir pekan, desa wisata Anda ramai. Mobil dan motor berjajar sampai jalan desa.
Karcis kertas disobek di loket. Uang masuk ke kotak.
Sore dihitung. Jumlah karcis tidak terasa sebanding dengan ramainya pengunjung tadi.
Tidak ada yang tahu pasti di mana bedanya: karcis tidak dirobek, rombongan masuk tanpa karcis, atau salah hitung.
Padahal dari kas itulah jalan desa diperbaiki, kebersihan dibayar, dan warga mendapat bagian.
Contoh tampilan, bukan data nyata. Setiap karcis tercatat beserta jumlah orangnya, sehingga ramainya pengunjung bisa dibandingkan dengan isi kotak.
Cek dalam satu akhir pekan
- Akhir pekan ini, coba satu hal sederhana.
- Tugaskan satu orang di jalan masuk. Hitung kendaraan dan rombongan yang masuk, pakai garis di kertas.
- Perkirakan jumlah orang per kendaraan. Kalikan dengan harga karcis.
- Sore hari, bandingkan dengan jumlah karcis terjual dan uang di kotak.
- Itu angka desa Anda sendiri, bukan kata kami. Kalau ada selisih, yang kurang biasanya catatannya, bukan orangnya.
- Hasil hitungan ini juga bisa dibawa ke musyawarah. Warga melihat angkanya sendiri.
Warga bertanya di musyawarah desa
Musyawarah desa. Laporan BUMDes dibacakan.
Seorang warga bertanya: "Ramai begitu, tetapi mengapa hasilnya hanya sekian?"
Pengurus menjawab sebisanya. Catatannya tidak cukup untuk menjelaskan.
Pulang dari balai, cerita berkembang di warung. Pengurus yang jujur ikut kena curiga.
Lama-lama warga enggan terlibat. Pengelolaan bisa jatuh ke pihak luar. Yang membangun desa wisata itu warga, yang menikmati bisa orang lain.
Usaha milik desa harus tetap dimiliki desa. Mulai dari catatan yang bisa dilihat bersama.
Yang kurang biasanya catatannya, bukan orangnya.
Sudah menghitung? Tinggalkan nama Anda, tim AutoClaryTech membantu membaca angkanya. Tanpa biaya, tanpa paksaan.